Sabtu, 29 November 2014

Testing Sambel Part 1 (@sambelbususan)
Hallooo para sambelersss...
Berhubung saya itu orang Medan yang numpang lahir di Bandung dan keliling2 cari kerja di Semarang dan terakhir terdampar di pulau Bali (tolong di skip, ini ga penting. Asli deh!) jadi doyan banget sama yang namanya pedes. Kalo diibaratin nih, makan ga pake pedes itu ibarat makan sayur tanpa garam. Tapi sumpah, garam itu ternyata bahan utama yang bikin makanan kerasa enak. Itu kebukti setelah 13 hari saya ngejalanin yang namanya diet mayo :$ (uuppsss...kita udah  keluar benang merah ini.. *dalangmanadalang ). Next time saya bahas deh diet mayonya.
Balik lagi ke topik awal kali ini, saya mau ngasih beberapa masukan nih buat temen2 yang hobi belanja online seperti saya (dibaca: selalu jadi korban olshop) terutama yang lagi pengen beli sambel, yang lagi booming banget nih di IG.
1) Sambel khas Bali Bu Susan
Awalnya saya sempet kaget juga.. selama 3 tahun tinggal di Bali, sambal khas Bali yang saya tau itu namanya sambal matah, alias sambal mentah. Tapi waktu browsing tentang sambal online di mbah google, munculah sesosok sambel Bu Susan.
Berawal dari rasa penasaran dan rasa percaya ngga percaya dengan judulnya 'sambal khas bali', maka masuklah saya ke website resmi sambel tersebut (sambelbususan.wordpress.com)

Dalam kemasan sambel tersebut bahkan ada tulisan yang membuat saya semakin yakin buat beli itu sambel 'terenak No.2 se-Indonesia' (ini udah kaya pemilihan capres, pake no urut segala). Ngeliat itu tulisan yang mencengangkan bikin mata saya berbinar-binar sambil ngomong dalam hati...ini yang selama ini gue cari *pasang tampang penuh harapan*

Soalnya jujur aja, selama tinggal di Bali belum pernah deh nemu sambel yang rasanya bener-bener melekat di hati..maka dengan kekuatan bulan, saya pun segera menghubungi kontak yang ada di itu website buat order sambelnya. Oh iya, sambel Bu Susan punya 6 rasa: sambel bawang, sambel udang, sambel pete, sambel ikan asin, sambel teri, sama sambel terasi. Semuanya dibandrol harga Rp 25.000

Beberapa menit nunggu balesan, akhirnya sms saya pun dibales. Dan yang paling menggembirakan adalah saat dikasih tau harganya cuma 23rb perak, yang artinya lebih murah daripada yang ditulis di website. Ngga nanya2 harga lagi, takut itu penjual berubah pikiran saya pun pesen 2 (dibacanya pake irama iklan sar*mi) yaitu rasa udang dan rasa teri.

Berhubung masih sama2 di Bali saya menawarkan untuk COD atau saya ambil ke tempatnya (biar hemat ongkir ceritanya XD) tapi ngga dikasih, dengan alasan hanya menjual online :'(
Sedikit kecewa karena harus menunggu beberapa hari kedatangan itu sambel (bukan karena ongkir loh, bener deh) akhirnya mau ngga mau saya harus nunggu itu sambel jalan2 dulu di JNE.

Dan... 2 hari kemudian itu sambel udah ngejogrog manis di kantor security.. Yipiiiii ngga sabar banget pengen berhuh hah huhhah ria. Maka dari itu setelah lonceng pulang berbunyi (kantor apa sekolah sii??) saya langsung ngacir pulang, buka bungkusan dan seneng banget karena ternyata kemasannya sama persis kaya yang di website (hahahaa...ini penting loh)

Setelah mandi dan sedikit dandan biar tetep ngeksis, saya keluar cari makan sambil ngga lupa si mungil sambel Bu Susan udah saya bawa ke dalem tas. Yang pertama kali saya cobain itu sambel udangnya. Saya pun coba cari-cari masakan yang kira-kira cocok dicolek sambel,,,dan akhirnya pilihan pun jatuh pada lalapan. 

Sambil nungguin lalapan saya dateng, saya buka kemasan sambel Bu Susan. Kemasannya bagus, karena dibagian tutupnya dikasih lagi tutup plastik. Jadi kalo udah dibuka ngga tumpah kemana2. Dilirik sekilas, kayanya sambel ini terlalu banyak minyak. Tapi no problem lah, sedikit terobati dengan penampakan cabe2an ehhh cabe2nyaa..

Ngga berapa lama pesenan saya pun datang, dan inilah saatnya saya mencicipi sambel khas Bali terenak No.2 se-Indonesia... Saya potong itu paha ayam, saya cocol ke sambelnya.... daannnnn........
Taraaaaaa.....
NGGA ADA PEDESNYA SAMA SEKALI >.<
Saya coba cocol lagi, karena takutnya yang tadi dicocol itu minyaknya aja..
Tenyata ngga pedes juga.
Coba cocol lagi, siapa tau pedesnya lemot..maksudnya baru berasa pedes setelah di perut.

Dan alhasil, setelah habis setengah botol, itu pedes sama sekali ngga muncul :(
Kecewa dengan iklannya yang super heboh di kemasannya 'pedesnya ngga kira-kira'. Mungkin slogan yang tepat untuk kondisi saya saat itu adalah 'pedesnya ta kira-kira' (dibaca: pedesnya saya cari-cari)

Ngga nyalahin juga sih, dengan harga cabe yang sekarang lagi naik ke langit mungkin harga 23rb itu udah pake cabe maksimal. Tapi tetep aja gendok sama judulnya :'(

Ini dia penampakan dari sambel Bu Susan :

Okey deh, segitu dulu laporan langung dari lapangan yang bisa saya bagikan.
Next post saya bahas sambel yang lain deh.




 

Minggu, 09 November 2014

Mengalah bukan berarti kalah...

Kalah dan mengalah....
Dua kata yang hampir mirip, tapi memiliki makna yang jauh berbeda.
Kalah adalah situasi dimana kita menyerah tanpa mencoba untuk berjuang dan memilih untuk berlari menjauh.
Tapi mengalah, adalah saat dimana kita telah berjuang semampu kita hingga kita benar-benar mengerti sampai sejauh mana kemampuan kita, titik kelemahan kita...tapi kita tidak bisa memaksakan diri untuk itu dan mundur adalah jawaban terbaiknya.

Fenomena yang saya temui baru-baru ini di lingkungan sekeliling saya, mengalah untuk orang yang kalah.
Dalam dunia pekerjaan sekarang ini, dimana persaingan semakin ketat karena lapangan pekerjaan tidak bisa sebanding dengan SDM yang semakin meningkat, bukan hal baru banyak orang yang berbuat curang.

Tidak sedikit kita lihat orang-orang yang tidak memiliki kemampuan dan integritas bisa menjadi seorang pemimpin. Mereka biasanya menggunakan cara instan untuk memperoleh suatu jabatan. Entah itu 'menjilat atasan atau mungkin 'sikut' teman kanan kiri, yang pasti untuk orang-orang seperti itu jabatan setinggi apapun tetap saja mereka adalah orang yang KALAH.

Menghadapi tipe orang kalah seperti ini, ada beberapa macam respon yang berbeda.
Ada orang yang berani 'melawan'. Melawan dalam arti tidak menerima begitu saja setiap aturan dan keputusan yang dibuat oleh 'orang kalah' yang memang dianggap menyimpang.

Ada juga tipe orang yang diam, lebih memilih aman. Mengikuti aturan dan keputusan apa saja yang dibuat, tanpa memberikan komentar atau masukan. Orang tipe seperti ini biasanya orang yang tidak berani mengemukakan pendapatnyadi forum, tapi akan menggerutu di belakang.

Orang yang 'melawan' bisa menjadi orang yang 'mengalah'.
Bukan berarti mereka kalah, tapi kadang mereka merasa lelah menghadapi orang kalah seperti itu, dan beban terasa sangat berat bila bekerja tanpa kedamaian.

Well, inilah hidup...
Ada kalanya kita harus berjuang sampai titik darah penghabisan, ada kalanya kita perlu mengalah. Mengenyampingkan keinginan kita, untuk tujuan yang lebih baik.

salam hangat,
orangterhilang.blogspot.com


Kamis, 06 November 2014

It's okay to be DIFFERENT ...

BEDA....
Kalau denger kata ini, yang terbesit dalam pikiran kita pasti 'ngga sama' (ya iyalah beda dengan ngga sama itu kan sama .... nah lo ribet kan?)
Tapi mengakui atau tidak, kadang 'ngga sama' yang ada di pikiran itu seringkali lebih ke arah negatif.
Karena apa? Karena kita membandingkan sesuatu yang jumlahnya lebih kecil (minoritas) terhadap kumpulan yang lebih besar (mayoritas)

Entah itu perbedaan keyakinan, fisik, ekonomi, pendidikan dsb.
Hal-hal semacam ini yang seringkali membuat seseorang tersingkirkan atau mungkin juga mengundurkan diri dari komunitas di sekelilingnya.
Padahal seperti slogan-slogan yang sering kita dengar, perbedaan itu meciptakan keindahan dan keunikan tersendiri.

Kita ngga bakalan tau yang namanya tinggi kalo ngga ada yang namanya rendah...
Kita ngga bakalan tau yang namanya besar kalo ngga ada yang namanya kecil...
dan sebagainya... dan lain-lainnya.

Hmmmmm... mau sedikit share juga nih pengalaman pribadi tentang 'perbedaan'
Jadi waktu itu saya main ke Waterboom Bali yang hampir 80% pengunjungnya bule.
Selesai main di wahana air, saya mampir ke foodcourt untuk makan siang.
Karena cuaca sangat terik, saya menutupi badan saya dengan handuk supaya tidak terlalu kepanasan.

Beberapa menit kemudian saya didatangi seorang bule yang langsung ngoceh-ngoceh dengan bahasanya.
Saya sempat bingung juga kenapa dia tiba-tiba datang dan memarahi saya.
Dia tanya kenapa saya takut matahari? Saya jawab saya tidak takut matahari.
Kemudian dia bertanya lagi, kalo saya tidak takut matahari, kenapa saya menutupi badan dengan handuk?
Saya jawab saya takut hitam.

Final question, apakah menurut kamu kulit putih itu cantik dan kulit hitam itu jelek?
Duuuaaarrrr..... saya jadi mikir bolak-balik atas-bawah depan-belakang.
Kemudian dia melanjutkan, bahwa menurut dia dan orang-orang di negaranya kulit putih itu kulit yang tidak sehat, karena kekurangan sinar matahari. Itulah mengapa mereka rela jauh-jauh dan bayar mahal datang ke Indonesia hanya untuk menikmati sinar matahari.

Kulit putih yang menandakan kulit cantik terawat itu bagus.
Tapi kulit coklat/hitam, yang menandakan kulit itu cukup mendapatkan sinar matahari juga bagus.
Jadi, setiap perbedaan itu memiliki sisi positif tersendiri dan kita ngga berhak menghakimi seseorang karena perbedaan yang dia miliki.

Buka mata, buka hati, dan buka pikiran.
Perbedaan itu indah :)

# Siapa pun kamu, bagaimana pun kamu..kamu itu indah, kamu itu berharga. You were born to be loved #

Salam hangat,
orangterhilang.blogspot.com



Rabu, 05 November 2014

Orang Yang Terbuang

 
Hai bloggers...
Ini blog pertama saya.
Lewat orangterhilang.blogspot.com ini saya ingin berbagi cerita tentang orang-orang yang terhilang, terbuang atau bahkan dibuang...

Bagi kalian bloggers yang punya kisah seputar topik diatas jangan ragu-ragu untuk share disini. Semoga kita bisa saling membantu & menguatkan.

Salam,
orangterhilang.blogspot.com